Freeport = Kejahatan Korporatokrasi

oleh Menentang Kolonialisme

John Perkins adalah penulis asal Amerika Serikat yang mengungkapkan kejahatan korporatokrasi yaitu jaringan yang bertujuan memetik laba melalui cara-cara korupsi, kolusi, dan nepotisme dari Negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia.

Cara kerja mereka mirip mafia karena menggunakan semua cara, termasuk pembunuhan untuk mencapai tujuan. Ia mengungkapkan bandit-bandit ekonomilah yang melenyapkan Presiden Panama Omar Torrijos dan Presiden Ekuador Jaime Roldos. “Kita melakukan pekerjaan kotor. Tak ada yang tahu apa yang kamu lakukan, termasuk istri kamu. Kamu ikut atau tidak?, kalau mau dilarang keluar sampai mati,” kata bos Perkins yang suatu hari raib ibarat hantu.

Ikon korporatokrasi yang nyata Wapres Amerika Serikat Dick Cheney. Ia mantan CEO Halliburton—kontraktor terbesar di dunia—dan sampai kini menjadi penasihat bisnis MNC itu.

Cheney penganjur serbuan ke Irak yang dipalsukan lewat senjata pemusnah massal. Kini Halliburton bersama MNC lainnya menikmati keuntungan dari ladang minyak Irak.

Menurut Empire, penyingkiran pemimpin dibenarkan korporatokrasi, termasuk pembunuhan Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddeq (1951- 1953) yang menasionalisasi industri pertambangan.

Tugas pertama Perkins membuat laporan-laporan fiktif untuk IMF dan World Bank agar mengucurkan utang luar negeri kepada Negara-negara Dunia Ketiga.

Tugas kedua Perkins adalah membangkrutkan negeri penerima utang. Setelah tersandera utang yang menggunung, Negara pengutang dijadikan kuda yang dikendalikan kusir. Negara pengutang ditekan agar, misalnya, mendukung Pemerintah AS dalam voting di Dewan Keamanan PBB. Bisa juga Negara pengutang dipaksa menyewakan lokasi untuk pangkalan militer AS. Sering terjadi korporatokrasi memaksa negeri pengutang menjual ladang-ladang minyak mereka kepada MNC (multinational corporation) milik Negara-negara barat.

Bos Perkins, Charlie Illingworth mengingatkan Perkins bahwa Presiden AS Richard M Nixon menginginkan kekayaan alam Indonesia diperas sampai kering. Di mata Nixon, Indonesia ibarat Real Estate terbesar di Dunia yang tidak boleh jatuh ke tangan Uni Soviet dan China.

Eksistensi Korporatokrasi disambut hangat oleh para pejabat orde baru. Korporatokrasi membuka peluang emas untuk KKN. Konspirasi antara Korporatokrasi dengan Kleptokrasi orde baru dijalin melalui prinsip “tahu sama tahu” dalam rangka “pembangkrutan Indonesia” (bukan Pembangunan Indonesia). Konspirasi inilah yang mengawali lingkaran setan utang yang di eluk-elukkan ideology pembangunan orde baru.

Pembangunan berbagai proyek infrastruktur ini bertujuan merebut laba maksimal bagi perusahaan-perusahaan AS. Tujuan lain memperkaya elite orde baru dan keluarganya agar mereka tetap loyal kepada Korporatokrasi. Utang yang semakin menggunung akan menguntungkan persekongkolan ini. Dan Perkins pun dinyatakan lulus sebagai bandit ekonomi andal berkat kariernya yang sukses di Indonesia.

—————
korporatokrasi berarti suatu sistem pemerintahan yang dikendalikan/ dikuasai/ dijalankan oleh beberapa korporat. Para korporat ini biasanya para pengusaha kaya raya / konglomerat yang memiliki dana lebih dari cukup untuk mengendalikan kebijakan2 politik ekonomi sosial budaya, dll dalam suatu negara.

Secara praktis biasanya para konglomerat ini merupakan donatur/ penyumbang utama yang “menghidupi” para politikus, pejabat2 militer, dan kepala2 instansi negara. Potensi negatif yang bisa muncul dari korporatokrasi adalah kebijakan2 /peraturan yang diundangkan oleh pemerintah hanya menguntungkan bagi bisnis para konglomerat saja, sehingga makin menindas golongan ekonomi lemah.

Pokok kekuatan korporatokrasi adalah korporasi. Di depan bangsa-bangsa dunia, korporatokrasi mempertontonkan upaya mempromosikan demokrasi dan transparansi diantara bangsa-bangsa dunia. Namun korporasi-korporasinya tak lain adalah pemerintahan diktator yang imperialistik. Korporatokrasi bertujuan untuk membangun sebuah Imperium tak tertandingi.

Imperium : Negara-bangsa yang mendominasi negara-bangsa lainnya dan menunjukan satu atau lebih ciri-ciri berikut ini :

  1. Mengekspoitasi sumber daya dari negara yang didominasi
  2. Menguras sumber daya dalam jumlah yang tak sebanding dengan jumlah penduduknya jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain
  3. Memiliki angkatan militer yang besar untuk menegakan kebijaksannya ketika upaya halus gagal
  4. Menyebarkan bahasa, sastra, seni dan berbagai aspek budayanya ke seluruh tempat yang berada di bawah pengaruhnya
  5. Menarik pajak bukan hanya dari warga sendiri, tapi juga dari orang-orang di negara lain
  6. Mendorong penggunaan mata uangnya sendiri di negara-negara yang berada di bawah kendalinya

Dari membaca buku : John Perkins Membongkar Kejahatan Jaringan Internasional, Ufuk Press, Jakarta, Cetakan ke II Juni 2009

http://serbasejarah.wordpress.com/2009/10/05/kejahatan-korporatokrasi/

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: